Kajian Hadis Tahlili Dalam Doa Nabi



KAJIAN HADIS TAHLILI DALAM DOA NABI
Oleh: Difa'ul Umam



I. Pendahuluan
Doa merupakan kata yang tak asing lagi bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, khususnya umat Islam. bukan hanya Muslim saja yang sering memanjatkan doa, umat non Muslimpun berdoa dengan cara mereka sendiri yang tentunya berbeda dari agama satu sama lain. Perbedaan yang menonjol mungkin terdapat pada bahasa yang digunakan ketika berdoa meminta kepada Tuhan.
Seringkali kita mendengar seseorang memanjatkan doa itu ketika selesai melaksanakan salat fardu lima waktu. Seseorang tak akan lepas dari mememanjatkan doa meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk memenuhi hajatnya. Berdoa tidak hanya dipanjatkan ketika selesai salat saja, berdoa bisa dipanjatkan untuk berbagai macam hal. Misalnya, sebelum ujian kita bisa berdoa agar bisa mengerjakan dengan mudah, sebelum melakukan perjalanan kita berdoa agar selamat sampai tujuan, sampai sampai dalam urusan berhubungan suami istri dianjurkan untuk berdoa terlebih dahulu.
Doa bukanlah ajang pelampiasan kita kepada Tuhan, yang jika kita diberikan nikmat kita lupa bersyukur kepadaNya dan jika kita ditimpa kesusahan, kita siang malam bersujud memohon agar diberikan karuniaNya. Harus ada keseimbangan hubungan antara hamba dan Allah dengan doa yang dipanjatkan secara istikamah, karena doa merupakan suatu ibadah hamba kepada Allah Subḥānahu wa Ta`ālā.
Karena sering mendengar doa yang dipanjatkan oleh imam di musala setelah salat fardu, kami penasaran doa tersebut, hingga akhirnya kami mencarinya. Ternyata salah satu dari doa yang kami cari itu berupa hadis nabi yang mengajarkan doa kepada Sayyidah ‘Āishah. Berawal dari kejadian itu kami tertarik untuk meneliti hadis nabi yang berisi doa tersebut, baik dari segi sanad maupun matannya hingga mengetahui biografi perawinya.
II. Hadis Tentang Doa
حَدَّثَنَا عَفَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا جَبْرُ بْنُ حَبِيبٍ، عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا»[1]
Telah menceritakan kepada kami ‘Affān, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ḥammād, ia berkata, mengabarkan kepada kami Jabr ibn Habīb, dari Ummu Kulthūm binti Abī Bakr, dari ‘Āishah, sesungguhnya Rasūlullāh Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa ini kepada ‘Āishah: “Ya Allah saya minta kepadaMu segala kebaikan yang sekarang dan yang akan datang, baik yang saya ketahui mapun yang tidak saya ketahui, dan saya berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang sekarang maupun yang akan datang, baik yang saya ketahui mapun yang tidak saya ketahui. Ya Allah saya minta kepadaMu segala kebaikan yang pernah diminta oleh hambaMu dan NabiMu Muḥmmad Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam, dan saya berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang perlindungan itu pernah diminta oleh hambaMu dan NabiMu. Ya Allah saya meminta kepadaMu surga dan sesuatu yang dekat dengannya baik dari segi ucapan maupun perbuatan, dan saya berlindung kepadaMu dari neraka dan sesuatu yang dekat dengannya baik dari segi ucapan maupun perbuatan, dan saya minta jadikanlah segala ketetapanmu adalah ketetapan baik bagiku.
III. Mufradat
عَاجِلِ  : mempunyai makna المشرع artinya yang cepat-cepat, tergesa-gesa. Atau ضد الآجل, berarti yang ada atau yang sekarang.[2]
آجل   : memiliki makna yang ditunda atau yag ditangguhkan.[3]
الْخَيْر   : bermakna الحسن berarti kebaikan, kebagusan.[4]
الشَّرّ   : kebalikan dari kebaikan, yaitu kejelekan, keburukan.[5]
IV. Biografi Perawi
1.      ‘Affān
Beliau adalah al-Imām al-Ḥāfidz ‘Affān ibn Muslim ibn ‘Abdillāh al-Baṣriy al-Ṣaffār seorang ahlih hadis dari Irak, dilahirkan pada tahun 134 H. meninggal pada tahun 219 H. Beliau berguru kepada Ḥammād ibn Salamah, Shu’bah, Hishām al-Dastuwāiy, Hammām, Ṣahr ibn Juwairiyyah, Dailam ibn Ghazwān, Wuhaib ibn Khālid, Sulaimān al-Mughīrah. Sedangkan murid beliau yaitu Imām Aḥmad ibn Hanbal, al-Jamā’ah, Ibnu al-Madīniy, Ibnu Ma’īn, Isḥāq, al-Fallās, Ibnu Abī Syaibah, Khalaf ibn Sālim, Abū Khaithamah. Adapun komentar ulama tentang beliau di antara lain, Abū Ḥātim berkata beliau adalah seorang imam yang thiqah. Marrah berkata, beliau thiqah dan dipercaya. Menurut Ibnu Ḥajar dan al-Dzahabiy tentang beliau adalah thiqah dan kuat hafalannya juga mahir dalam hukum-hukum ilmu jarḥ wa ta’dīl, tetapi terkadang ia dituduh dha’īf.[6]
2.      Ḥammād
Beliau adalah Shaikh al-Islām imam yang menjadi panutan, Ḥammād ibn Salamah ibn Dīnar al-Baṣriy, wafat pada tahun 167 H. Di antara guru-guru beliau ialah Jabr ibn Habīb, Ibnu Abī Mulaikah, Anas ibn Sīrīn, Muḥammad ibn Ziyād al-Qurasiy, Abū Jamrah Naṣr ibn ‘Imrān, ‘Ammār ibn Abī ‘Ammār, Abdullāh ibn Kathīr, Qatadah ibn Di’amah. Sedangkan yang berguru kepada beliau di antara lain yaitu ‘Affān, Ibnu Juraiḥ, Ibnu al-Mubarrok, Yaḥya al-Qaṭṭān, Abū Nu’aim, al-Qa’naniy, Mūsā ibn Isma’īl, Abdullāh ibn Mu’āwiyah al-Jumaḥiy. Wuhaib ibn Khālid berkata, Ḥammād ibn Salamah adalah tuan kita, seseorang yang lebih alim dari kita. Aḥmad berkomentar, orang yang paling pandai dan berpegang teguh pada Ḥumaid al-Ṭawīl.[7] Menurut Ibnu Ḥajar dan al-Dzahabiy beliau thiqah, ahli ibadah dan salah seorang yang alim.
3.      Jabr ibn Habīb
Jabr ibn Habīb, sangat sedikit informasi yang didapat, dari segi tahun kelahiran dan wafatnya tidak ditemukan. Beliau hanya meriwayatkan hadis dari Ummu Kulthūm binti Abī Bakr al-Ṣiddīq, dari saudaranya (Sayyidah ‘Āishah). Sedangkan orang yang meriwayatkan hadis darinya adalah Ḥammād ibn Salamah, Sa’īd ibn Iyās al-Jurairiy, Syu’bah ibn al-Ḥajjaj, Abū Na’āmah ibn ‘Isā al-‘Adawi. Isḥāq ibn Manṣūr berkata dari Yaḥya ibn Ma’īn, bahwasanya beliau thiqah. Al-Nasa’iy juga berpendapat demikian.[8] sedangkan Ibnu Ḥajar dan al-Dzahabiy berpendapat bahwa beliau orang thiqah, makrifatullah dan dapat dipercaya.
4.      Ummu Kulthūm binti Abī Bakr al-Ṣiddīq
Nama lengkapnya adalah Ummu Kulthūm bintu Abī Bakr al-Ṣiddīq ibn Abī Quḥāfah ibn ‘Āmir ibn ‘Amr ibn Ka’b ibn Sa’d ibn Taim. Sedangkan dari jalur Ibunya yaitu Ḥabībah bintu Khārijah ibn Zaid ibn Abi Zuhair ibn Mālik ibn Imri’i al-Qais ibn Mālik al-Agharr ibn Tha’labah ibn Ka’b ibn al-Khazraj ibn al-Khārith ibn al-Khazraj.[9] Ummu Kulthūm  lahir setelah Abū Bakr al-Ṣiddīq wafat. Ummu Kulthūm hanya meriwayatkan hadis dari Sayyidah ‘Aisyah. Dan yang meriwayatkan hadis dari beliau ialah Jabr ibn Habīb, putranya sendiri (Ibrāhīm ibn ‘Abd al-Raḥmān), Jābir ibn ‘Abdillah al-Anṣariy, Ṭalḥah ibn Yaḥyā dan al-Mughīrah ibn Ḥakīm al-Ṣan‘āniy.[10] Beliau tidak diragukan lagi dengan kethiqahannya, karena belajar langsung kepada istri Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam, Sayyidah ‘Āisyah.



V. Analisa Hadis
Analisa yang didapat menununjukkan hadis di atas merupakan hadis marfū’ yang sahih karena antara satu rawi dengan rawi lainnya sambung mulai dari awal sanad Imam Aḥmad ibn Hanbal hingga Sayyidah ‘Āishah bertemu. Sedangkan hadis marfū’ adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam baik dari segi ucapan, perbuatan, ketetapan maupun sifatnya. Hadis marfū’ terbagi menjadi empat yaitu al-marfū’ al-qauliy, al-marfū’ al-fi’liy, al-marfū’ al-taqrīriy, dan al-marfū’ al-waṣfiy.[11] Sedangkan hadis di atas tergolong hadis marfū’ al-qauliy, karena hadis di atas merupakan doa yang diajarkan atau diucapkan oleh Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam kepada Sayyidah ‘Āishah.
Hadis dengan redaksi matan yang sama juga terdapat dalam kitab Sunan al-Tirmidziy, tetapi dengan sanad yang sedikit berbeda, berikut redaksi hadisnya.
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، أَخْبَرَنِي جَبْرُ بْنُ حَبِيبٍ، عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا"[12]
Pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Aḥmad ibn Hanbal, beliau meriwayatkan hadis langsung dari ‘Affān. Akan tetapi pada hadis yang diriwayatkan Ibnu Mājah, beliau mendapatkan hadis dari Abū Bakr ibn Abī Shaibah terlebih dahulu, setelah itu dari ‘Affān. Jika diteliti lebih lanjut, Imam Aḥmad dan Ibnu Mājah itu menjadi murid dari Abū Bakr ibn Abī Shaibah, tetapi Imam Aḥmad langsung meriwayatkan hadis dari ‘Affān, tanpa menyebut Abū Bakr ibn Abī Shaibah. Kemungkinannya adalah Imam Aḥmad tidak mendapatkan hadis tersebut dari Abū Bakr ibn Abī Shaibah.
VI. Fiqhul Hadis
A.    Pengertian Doa
Doa merupakan masdar dari kata دعا yang berarti memanggil atau mengundang. Sedangkan doa berarti seruan, panggilan, atau bermakna الطلب yang berarti permintaan atau permohonan.[13] Sedangkan menurut syariat adalah permintaan seorang hamba kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā untuk sesuatu yang bermanfaat dan permintaan agar dijauhkan dari sesuatu yang berbahaya.[14]
Jadi doa adalah permintaan dari seorang hamba (bawahan) kepada Allah Subḥānahu wa Ta`ālā (atasan). Berbeda lagi dengan perintah, jika doa adalah permintaan dari bawahan kepada atasan, maka perintah adalah sebaliknya, yaitu seorang atasan menyuruh bawahannya.
VII. Kesimpulan
Hadis mengenai doa yang diajarkan Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam kepada Sayyidah ‘Āishah di atas yang statusnya merupakan hadis marfu’ qouliy, karena isi hadis tersebut merupakan ucapan Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam yang berisi doa . Hukum mengamalkannya adalah bisa untuk diamalkan. Hadis tersebut dihukumi sahih karena antara murid dengan guru mulai dari Imam Aḥmad ibn Hanbal Sayyidah ‘Āishah bertemu.
Daftar Pustaka
Shaibāniy (al), Abū Abdillāh Aḥmad ibn Muḥmmad ibn Hanbal ibn Hilāl ibn Asad. Musnad al-Imām Aḥmad ibn Hanbal. ttp: Muassasah al-Risālah. 2001.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir. Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.
Dzahabiy (al), Shamsuddīn Abū Abdillāh Muḥammad ibn Aḥmad ibn ‘Uthmān ibn Qaimāz. Sīru A’lām al-Nubāla’. ttp: Mu’assasah al-Risalah. 1985.
Maziy (al), Yūsuf ibn Abd al-Raḥmān ibn Yūsuf Abū al-Ḥajjāj Jamāl al-Dīn ibn al-Zakiy Abī Muḥammad al-Qaḍāiy al-Kabiy, Taḥdzīb al-Kamāl fī Asmā’ al-Rijāl. Beirūt: Muassasah al-Risālah. 1980.
Baghdādi (al), Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Sa’d ibn Munī’ al-Hāshimiy bi al-Wilāi al-Baṣriy. Al-Ṭabaqāt al-Kubrā. Beirūt: Dār Ṣādir. 1968.
Na’īmiy (al), Abū Ḥafṣ Muḥammad ibn Aḥmad ibn Maḥmūd Ṭaḥḥān. Taisīr Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. ttp: Maktabah al-Ma’ārif li al-Nashr wa al-Tauzī’. 2004.
Sadḥān (al), ‘Abd al-‘Azīz ibn Muḥmmad ibn ‘Abdillāh. Fawāid min Sharḥ Kitāb al-Tauḥīd. ttp: Dār al-Muslim li al-Nashr wa al-Tauzī’. thp.
Qazwainiy (al), Ibnu Mājah Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Yazīd. Sunan Ibnu Mājah. ttp: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah. thp.


[1] Abū Abdillāh Aḥmad ibn Muḥmmad ibn Hanbal ibn Hilāl ibn Asad al-Shaibāniy, Musnad al-Imām Aḥmad ibn Hanbal, (ttp, Muassasah al-Risālah, 2001), 41: 474.
[2] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 900.
[3] Ibid,. 10.
[4] Ibid,. 378.
[5] Ibid,. 708.
[6] Shamsuddīn Abū Abdillāh Muḥammad ibn Aḥmad ibn ‘Uthmān ibn Qaimāz al-Dzahabiy, Sīru A’lām al-Nubāla’, (ttp: Mu’assasah al-Risalah, 1985), 10: 242-243.
[7] Ibid,. 7: 444-446.
[8] Yūsuf ibn Abd al-Raḥmān ibn Yūsuf Abū al-Ḥajjāj Jamāl al-Dīn ibn al-Zakiy Abī Muḥammad al-Qaḍāiy al-Kabiy al-Maziy, Taḥdzīb al-Kamāl fī Asmā’ al-Rijāl, (Beirūt: Muassasah al-Risālah, 1980), 3: 159.
[9] Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Sa’d ibn Munī’ al-Hāshimiy bi al-Wilāi al-Baṣriy al-Baghdādi, Al-Ṭabaqāt al-Kubrā, (Beirūt: Dār Ṣādir, 1968), 8: 462.
[10] Yūsuf ibn Abd al-Raḥmān ibn Yūsuf Abū al-Ḥajjāj, 35: 381.
[11] Abū Ḥafṣ Muḥammad ibn Aḥmad ibn Maḥmūd Ṭaḥḥān al-Na’īmiy, Taisīr Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth, (ttp: Maktabah al-Ma’ārif li al-Nashr wa al-Tauzī’, 2004), 161.
[12] Ibnu Mājah Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Yazīd al-Qazwainiy, Sunan Ibnu Mājah, (ttp: Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, thp), 2: 1264.
[13] Ahmad Warson Munawwir, 406.
[14] ‘Abd al-‘Azīz ibn Muḥmmad ibn ‘Abdillāh al-Sadḥān, Fawāid min Sharḥ Kitāb al-Tauḥīd, (ttp: Dār al-Muslim li al-Nashr wa al-Tauzī’, thp), 43.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL KITAB “SHAHĪH BUKHĀRI” BESERTA PENULISNYA

Kitab Tafsīr Al-Taḥrīr Wa Al-Tanwīr Karya Ibnu ‘Asyūr Dan Kontribusinya Dalam Keilmuan Tafsir Kontemporer